Minggu, 18 Maret 2018

HIJAUAN PAKAN TERNAK UNTUK LAHAN SUB-OPTIMAL


 HIJAUAN PAKAN TERNAK UNTUK LAHAN SUB-OPTIMAL


KELOMPOK 3

AZLAN (KETUA)
ASMIN IZFAR (SEKRETARIS)
IWAN MONIKA SALES
ASWAN
ARDIN
AHMAD SYAFII
ROBY KAYAME
ALAM JAYA
MICHAEL R YOSMIANTUS
SYAMSIR SAPUTRA



JURUSAN PETERNAKAN
FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2018



KATA PENGANTAR

            Bismillahirrahmanirrahiim
Segala puji hanya milik Allah Subhana Wata’ala karena atas rahmat dan karuniah-Nya sehingga penulisan makalah ini dapat diselesaikan dengan baik. Makalahyang berjudul “MATA KULIAH MANAJEMEN PASTURA
ini membahas hal-hal yang perlu diperhatikan hijauan dalam lahan sub-optimal. .
Oleh karena itu diharapkan makalah ini dapat memberikan manfaat bagi para peserta diskusi dalam materi kuliah dan yang terpenting dapat menerapkan ilmunya di lingkungan masyarakat nanti.




                                                            Kendari,  Maret 2018
                                                                       


                                                            Penulis











BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Pada dasarnya petani di Indonesia adalah peternak karena selain berusaha tani mereka juga memelihara ternak Hal ini sudah berlangsung sejak zaman nenek moyang. Mereka mengusahakan usahataninya secara terpadu. Boleh dikatakan hampir tidak ada petani yang semata-mata hanya bercocok tanam. Mereka juga memelihara ternak besar maupun kecil, baikdalam jumlah banyak maupun  sedikit. Dengan demikian, sebenarnya petani, terutama yang memelihara ternak ruminansia seperti sapi, kerbau, kambing maupun domba, sudah sangat mengenal arti pentingnya rumput pakan.
Karena petani di Indonesia  umumnya memelihara ternak, mereka juga mengenal jenis-jenis rumput pakan yang baik untuk ternak. Pengetahuan mengenai jenis rumput pakan khususnya rumput lokal ini kemudian diajarkan dan diturunkan dari generasi ke generasi sehingga petani-peternak zaman sekarang masih mengenal rumput lokal sebagai pakan ternak. Di lain pihak, karena peningkatan populasi penduduk dan ekspansi industri, lahan-lahan pertanian yang subur digunakan untuk keperluan non-pertanian sehingga untuk tanaman (termasuk tanaman pakan) bergeser ke lahan-lahan tidak subur yang tergolong ke dalam lahan marginal atau lahan sub-optimal.
Sesuai dengan sebutannya, lahan marginal atau lahan sub-optimal, kurang memberikan daya  hasil yang optimal. Bagi pertanian Berbagai faktor pembatas harus diatasi agar lahan tersebut dapat memberikan hasil yang maksimal. Pada saat lahan pertanian masih berada di lahan yang subur dan luas, ketersediaan pakan ternak tidak menjadi masalah, tetapi dengan semakin sempitnya lahan dan kondisinya sub-optimal, hijauan pakan ternak makin sulit diperoleh. Namun demikian, ada beberapa spesies rumput dan leguminosa yang toleran terhadap kondisi sub-optimal. Sebagian rumput dan leguminosa toleran pada kondisi kekeringan, dan  sebagian lain masih bisa berproduksi baik pada lahan asam, dan ada juga yang mampu tumbuh baik pada lahan salin. Berdasarkan hal tersebut maka perlu diketahui jenis-jenis hiajaun apakan di lahan sub-optimal.
B.     Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam makalah ini adalah hijauan pakan ternak apa saja yang biasa terdapat di lahan sub-optimal?
C.    Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk mengetahui jenis-jeni hijauan pakan ternak yang biasa terdapat di lahan sub-optimal.














BAB II
PEMBAHASAN
A.    Aktor-Faktor yang Memengaruhi Ketersediaan Hijauan Pakan
Jenis, produksi, dan mutu hasil hijauan pakan ternak yang dapat hidup di suatu daerah dipengaruhi oleh berbagai faktor,yaitu: iklim, tanah, spesies, pengelolaan, kondisi sosial ekonomi petani.
1.      Iklim
a.       Curah Hujan
Pada musim hujan, produksi hijauan pakan biasanya tinggi, tetapi mutunya rendah. Hal ini karena pada musim hujan, pertumbuhan tanaman lebih cepat dibandingkan pada musim kemarau. Akibatnya peternak kelebihan pasokan sehingga banyak rumput yang terlambat dipotong. Apabila rumput dipotong terlalu tua, kandungan serat kasarnya meningkat, sedangkan kandungan protein kasarnya menurun. Sebaliknya pada musim kemarau, pertumbuhan rumput lebih lambat sehingga rumput lebih lambat dipanen, atau kalau cepat dipanen rumputnya masih muda. Pada saat itu, kandungan protein kasar cukup tinggi sementara serat kasarnya rendah. Namun pada musim kemarau, daya hasil hijauan pakan juga rendah, sehingga banyak peternak yang mencari hijauan ke tempat lain untuk ternaknya.
b.      Suhu Udara
Suhu udara dipengaruhi oleh ketinggian tempat dari permukaan laut, setiap kenaikan tinggi tempat 100 m, suhu udara menurun 1oC. Beberapa jenis hijauan pakan tumbuh baik di dataran tinggi, tetapi sebagian lainnya hanya tumbuh baik di dataran rendah. Namun, ada juga yang tumbuh baik mulai dari pinggir laut sampai ke pegunungan.
2.      Lahan
Berdasarkan tingkat kesuburannya, lahan juga bisa digolongkan ke dalam lahan subur dan lahan tidak subur. Faktor-faktor yang memengaruhi kesuburan tanah antara lain pH tanah dan salinitas.
Kesuburan tanah juga di pengaruhi kemasaman tanah dan salinitas. Tanah-tanah di sekitar gunung berapi biasanya lebih subur, sehingga apabila tidak ada  kendala air, tanah tersebut bisa ditanami hijauan pakan dengan hasil yang tinggi. Sebaliknya tanah yang tidak dipengaruhi  gunung berapi, seperti tanah Podsolik Merah Kuning, biasanya kekurangan unsur hara dan bersifat masam sehingga hanya tanaman tertentu yang bisa tumbuh dengan baik.
3.      Spesies
Kesuburan tanah juga di pengaruhi kemasaman tanah dan salinitas. Tanah-tanah di sekitar gunung berapi biasanya lebih subur, sehingga apabila tidak ada  kendala air, tanah tersebut bisa ditanami hijauan pakan dengan hasil yang tinggi. Sebaliknya tanah yang tidak dipengaruhi  gunung berapi, seperti tanah Podsolik Merah Kuning, biasanya kekurangan unsur hara dan bersifat masam sehingga hanya tanaman tertentu yang bisa tumbuh dengan baik.
4.      Pengelolaan
Pengelolaan atau manajemen hijauan pakan sering diabaikan oleh sebagian besar peternak di Indonesia. Pengelolaan pakan yang kurang baik, tidak dapat menjamin pasokan hijauan pakan sepanjang tahun sehingga pertumbuhan dan perkembangan ternak tidak akan baik. Prinsip  utama yang perlu diperhatikan adalah mendekatkan tanaman pakan ternak (TPT) dengan kandang. peternak tidak perlu  menghabiskan waktu sehingga untuk mencari hijauan pakan. Caranya adalah dengan menanami lahan di sekitar kandang dengan tanaman pakan, baik rumput maupun leguminosa. Namun, menanam hijauan pakan saja tidak cukup. tetapi Tanaman harus dipelihara dengan baik, dan dipupuk.
5.      Kondisi sosial ekonomi peternak/petani
Walaupun peternak mempunyai dana untuk membeli ternak, belum tentu mereka mempunyai kebun rumput. Kalaupun memiliki lahan, biasanya digunakan untuk tanaman pangan, sementara tanaman pakan ditanam di lahan-lahan yang tidak dapat ditanami tanaman pangan  seperti di lahan yang kurang subur, berbatu-batu, dan tampingan teras. Dengan demikian, hasil tanaman pakan juga rendah, sehingga berpengaruh terhadap produktivitas ternak yang dipeliharanya.
B.     Lahan Sub-Optimal di Indonesia
Lahan marginal sub-optimal adalah lahan yang mempunyai potensi rendah sampai sangat rendah untuk dimanfaatkan sebagai lahan pertanian, namun dengan penerapan suatu teknologi dan sistem pengelolaan yang tepat, lahan tersebut dapat menjadi lebih produktif dan  berkelanjutan. Lahan sub-optimal di Indonesia terdiri atas lahan pasang surut, lahan salin, gambut, dan lahan-lahan yang berada di dekat area pertambangan (Yuniati, 2004).
Lahan pertanian di Indonesia luasnya mencapai 188 juta ha, terdiri atas lahan kering 148 juta ha dan lahan basah 40 juta ha. Sebagian besar (sekitar 103 juta ha) lahan kering merupakan lahan kering masam dengan pH < 5, sedangkan lahan kering tidak masam hanya 45 juta ha.
Walaupun lahan sub-optimal di Indonesia sangat luas, pemanfaatannya untuk pertanian belum optimal. Ketersediaan inovasi teknologi untuk pengembangan lahan sub-optimal juga masih terbatas. Pemanfaatan  lahan sub-optimal memerlukan upaya dan teknologi spesifik lokasi agar lahan dapat berproduksi secara optimal dan berkelanjutan.
1.      Lahan Kering
Beberapa definisi lahan kering yang umum dijadikan acuan di Indonesia adalah:
a.       Hamparan lahan yang tidak pernah tergenang atau tidak digenangi air pada sebagian besar waktu dalam setahun atau sepanjang waktu (Hidayat dan Mulyani, 2005).
b.       Lahan yang sumber pengairannya semata-mata berasal dari air hujan. Lahan ini bisa berupa sawah tadah hujan, pekarangan, hutan, kebun, dan tegal (Semaoen et al., 1991)
c.       Lahan yang hampir sepanjang tahun tidak tergenang secara permanen (Muljadi, 1977)
d.       Lahan yang dalam keadaan alamiah lapisan atas dan bawah tubuh tanah (top soil dan  sub-soil) tidak jenuh air dan tidak tergenang sepanjang tahun, serta kelembapan tanah sepanjang tahun atau hampir sepanjang tahun berada di bawah kapasitas lapang (Satari et al., 1977)
e.       Lahan yang pemenuhan kebutuhan airnya untuk tanaman bergantung sepenuhnya pada  air hujan dan tidak pernah tergenang sepanjang tahun (Guritno et al., 1997)
Walaupun lahan kering didefinisikan bermacam-macam, secara umum oleh Badan Pusat Statistik (BPS, 2003) dikelompokkan menjadi pekarangan, tegal/kebun/ladang/huma, padang rumput, dan lahan perkebunan.
Lahan kering di Indonesia  tersebar di semua pulau besar. Kalimantan merupakan pulau dengan lahan kering terluas, yaitu 42,5 juta ha, diikuti oleh Papua dan Sumatera dengan luas masing-masing sekitar 33 juta ha (Hidayat dan Mulyani, 2005). Berdasarkan ketinggian tempat, lahan kering bisa digolongkan menjadi lahan kering dataran rendah, yaitu lahan yang berada pada elevasi sampai 700 m dpl, dan lahan kering dataran tinggi dengan batas ketinggian di atas 700 m dpl.  Sebagian besar lahan kering dataran rendah mempunyai bentuk wilayah (relief) datar, berombak, bergelombang dan berbukit. Di Indonesia lahan kering dataran rendah pada umumnya terdapat di Kalimantan dan Sumatera (Hidayat dan Mulyani, 2005).
2.      Lahan Rawa
Lahan rawa di Indonesia cukup luas sekitar 33,4 – 39,4 juta ha (Widjaja-Adhi  et al., 2000), menyebar dominan di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi dan Papua. Lahan rawa tersebut terdiri atas lahan rawa pasang surut 23,1 juta ha dan lahan rawa lebak 13,3 juta ha (Subagyo dan Widjaja-Adhi, 1998). Lahan rawa pasang surut merupakan rawa pantai pasang surut di dekat muara sungai besar yang dipengaruhi secara langsung oleh aktivitas air laut. Di wilayah pasang surut, karena lingkungannya selalu jenuh air dan tergenang, terdapat dua jenis utama tanah, yaitu tanah mineral (mineral soils) jenuh air dan tanah gambut (peat soils).
3.      Lahan Salin
Dalam rangka peningkatan produksi dan penyebaran pusat-pusat produksi pertanian guna memenuhi kebutuhan pangan dan pakan, perhatian terhadap lahan-lahan bermasalah menjadi semakin penting, mengingat lahan berpengairan makin terbatas Lahan salin di Indonesia sangat potensial dikembangkan apabila dikelola dengan baik, Upaya menanam tanaman pakan dan memelihara ternak ruminansia dilahan salin adalah alternatif diversifikasi usaha untuk meningkatkan taraf hidup para nelayan di sekitar pantai. Kendala utama yang dihadapi dalam usaha pemanfaatan lahan salin (lahan sawah pasang surut dan sawah lebak) ialah keadaan lahan yang basah berlebihan sepanjang tahun tingkat kesuburan tanah rendah, tingkat salinitas tanah tinggi akibat adanya intrusi air laut sewaktu terjadi pasang, kemasaman tanah yang tinggi, dan adanya ion-ion yang bersifat toksik yang merupakan faktor pembatas pertumbuhan tanaman (Hardjowigeno dan Rayes, 2005).
Jenis leguminosa pakan yang banyak dijumpai di Indonesia adalah lamtoro, turi, dan kalopogonium, serta sedikit sentrosema. Bakteri rhizobium yang diisolasi  dari keempat jenis leguminosa tersebut mampu bertahan hidup pada media dengan konsentrasi garam NaCI sangat tinggi yaitu 12.000 ppm. Leguminosa pohon lebih tahan terhadap salinitas dibandingkan dengan leguminosa penutup tanah.
4.      Lahan Bekas Tambang
Masalah utama pada wilayah bekas tambang adalah perubahan lingkungan. Perubahan kimiawi terutama berdampak terhadap air tanah dan air permukaan, berlanjut secara fisik perubahan morfologi dan topografi lahan. Lebih jauh lagi adalah perubahan iklim mikro serta penurunan produktivitas tanah dengan akibat menjadi tandus atau gundul. Mengacu kepada perubahan tersebut perlu dilakukan upaya reklamasi. Selain bertujuan untuk mencegah erosi atau mengurangi kecepatan aliran air limpasan, reklamasi  dilakukan untuk menjaga lahan agar tidak labil dan lebih produktif. Akhirnya reklamasi diharapkan menghasilkan nilai tambah bagi lingkungan dan menciptakan keadaan yang jauh lebih baik dibandingkan dengan keadaan sebelumnya
Perbaikan kondisi tanah meliputi perbaikan ruang tumbuh, pemberian tanah pucuk dan bahan organik serta pemupukan dasar dan pemberian kapur. Kendala yang dijumpai dalam merestorasi lahan bekas tambang yaitu masalah fisik, kimia (nutrients dan  toxicity), dan biologi. Masalah fisik tanah mencakup tekstur dan struktur tanah. Masalah kimia tanah berhubungan dengan reaksi tanah (pH), kekurangan unsur hara dan keracunan mineral.
Menurut Hanura (2005), pemberian kompos 200 ton/ha pada sandy tailing dan  humic tailing memberikan pengaruh terbaik terhadap sifat-sifat kimia bahan  tailing. Dari penelitian Santi (2005) diperoleh kesimpulan bahwa perbaikan  tailing dengan  overburden dan kompos dapat meningkatkan pertumbuhan nilam. Komposisi media terbaik yaitu 50%  tailing, 30%  overburden dan 20% kompos. Jenis bahan organik yang lazim digunakan untuk reklamasi lahan pasca tambang timah adalah pupuk kotoran ternak seperti kotoran sapi dan ayam. Kotoran ternak dikomposkan bersama-sama dengan seresah dengan menggunakan aktivator untuk mempercepat pelapukan. Selain  dari kotoran ternak, potensi bahan organik yang dapat dimanfaatkan adalah sampah organik dan limbah padat dari pabrik pengolahan kelapa sawit. Tanaman leguminosa yang dapat digunakan antara lain adalah sentro (Centrosema pubescens), puero (Puerariajavanica), dan kalopo (Calopogonium mucunoides) serta untuk rumput adalah akar wangi (Vetiveria zizanoides), Paspalum  sp., Brachiaria decumbens, dan  Panicum maximum. Penanaman dilakukan pada guludan atau bedengan.


C.    Tanaman Pakan
Di dalam sistem pemeliharaan ternak tradisional di Indonesia, hijauan pakan merupakan bagian terbesar dari seluruh pakan yang diberikan, dengan demikian hijauan pakan yang pada umumnya terdiri atas rumput dan leguminosa merupakan bagian yang sangat penting di dalam usahatani ternak.
a.       Rumput
Rumput, baik rumput lokal maupun rumput unggul, terdiri atas akar, batang yang lunak, daun dan bunga (Gambar 2). Sebagian rumput ada yang tumbuh membentuk rumpun, ada yang memiliki stolon (batang yang menjalar di permukaan tanah), dan ada juga yang memiliki rizoma (rimpang) yaitu batang yang tumbuh menjalar di bawah permukaan tanah. Dari buku-buku stolon dan rizoma ini tumbuh akar serabut. Semua rumput berakar serabut. Daun rumput biasanya berbentuk pita, yaitu tulang daun yang sejajar dan ujungnya lancip, baik rumput yang kecil (rumput kawat) maupun rumput yang besar (rumput gajah). Namun ada juga yang daunnya berbentuk lanset atau tombak.
1.      Rumput Lokal
Pada umumnya peternak di desa-desa tidak membedakan antara rumput dari keluarga Gramineae dengan tumbuhan lain dari keluarga bukan Gramineae. Bagi mereka semua tumbuhan (herba) yang dapat dimakan ternak adalah “rumput”. Dengan demikian yang dimaksud dengan rumput bagi peternak termasuk tumbuhan berdaun lebar dan teki-tekian. Namun yang dimaksud dengan rumput lokal di dalam  buku ini hanya spesies-spesies yang termasuk keluarga Gramineae saja.
2.      Rumput Introduksi
Rumput introduksi atau rumput unggul adalah jenis-jenis rumput (khususnya rumput pakan) yang sengaja didatangkan ke Indonesia karena mempunyai keunggulan dalam hal produksi hijauan dibandingkan dengan rumput lokal.
Rumput-rumput yang sudah dianggap sebagai rumput lokal antara lain, rumput gajah (aspa, kolonjono), sorghum dan rumput brachiaria yang sering disebut sebagai rumput bebe, rumput bede dan rumput beha. Rumput setaria juga sebenarnya rumput introduksi, namun sekarang sudah menyebar di mana-mana sehingga banyak yang menganggapnya sebagai rumput lokal dan sering dinamai atau disebut dengan nama rumput lampung.
b.      Leguminosa
Semua leguminosa perdu/pohon mempunyai perakaran yang dalam (akar tunggang) untuk mendapatkan air maupun nutrisi sehingga mempunyai kemampuan untuk berfungsi sebagai tanaman penghijauan, reklamasi daerah kritis. Beberapa jenis leguminosa pohon ada yang digunakan sebagai pagar hidup, atau sebagai tanaman pelindung/penaung di perkebunan, juga sebagai tanaman untuk peternakan lebah.
Biasanya leguminosa ditanam  dengan bijinya. Beberapa leguminosa pohon bisa juga ditanam dengan stek batangnya, seperti misalnya gamal. Di Indonesia leguminosa terdapat di lahan-lahan pertanian. Gamal dan lamtoro banyak ditanam sebagai pagar hidup, sementara leguminosa menjalar biasanya ditanam sebagai penutup tanah di perkebunan-perkebunan. Jenis-jenis yang bisa dimakan manusia seperti hiris (Cajanus cajan) dan turi (Sesbania grandiflora) biasa terdapat di pekarangan atau di lahan pertanian. Sebagai pakan, leguminosa biasanya dipotong dan diberikan di kandang (cut and carry).
D.      Jenis-Jenis Tanaman Pakan Toleran  untuk Lahan Sub-Optimal
Salah satu jenis leguminosa yang toleran pada lahan sub-optimal adalah  Indigofera sp. Leguminosa ini toleran terhadap kondisi tanah kering, tanah kadar garam, asam, serta logam berat (Hassen et al., 2007).
1.      Rumput Gamba (Andropogon gayanus)
Merupakan rumput yang berasal dari Afrika tropis yang memiliki fungsi sebagai rumput penggembalaan dan rumput potongan. Tinggi tegak membentuk rumpun yang lebat; Permukaan dan pangkal daun tertutup bulu halus; Perakaran dalam.
Mudah ditanam dari anakan (pols);     Cepat tumbuh kembali setelah berakar; Mudah dipotong dan memerlukan pemotongan yang teratur;     Dapat tumbuh baik tanpa pemupukan; Dapat ditanam bersama dengan  Stylosanthes guianensis dan Centrosema sp.;   Pemotongan setiap 6 minggu;  Produksi benih 100 – 450 kg/ha;    Produksi hijauan 20 ton/ha bahan kering.
2.      Rumput Bede (Brachiaria decumbens)
Rumput ini merupakan rumput penggembalaan dan rumput potongan. anaman berumur panjang;    Menjalar dengan stolon membentuk hamparan lebat setinggi 80 – 150 cm; Daun berbulu warna hijau gelap; Bunga tersusun dalam malai yang menyerupai bendera; Tahan penggembalaan berat. Merupakan  rumput yang  tahan terhadap kekeringan selama 6 bulan, dan terhadap cuaca dingin, juga toleran terhadap pengembalaan; Sangat rensponsif terhadap pemupukan nitrogen;  Mampu tumbuh pada lereng terjal; Tidak tahan genangan air.
3.      Rumput Bebe (Brachiaria brizantha)
Rumput potongan dan padang penggembalaan, baik untuk hay dan silase .Tanaman semak tinggi mencapai 120 cm; Batangnya tegak dengan tangkai bunga bisa mencapai 180 cm. Daunnya panjang dan tipis. Sangat cocok untuk daerah tropis lembab dengan musim kering kurang dari 6 bulan. Tinggi tempat 0 –3000 m dpl. Tumbuh dengan baik pada berbagai jenis tanah termasuk tanah berpasir dan tanah masam dengan pH 3,5 – 4. Berkembang baik sekali pada tanah yang subur. Pertumbuhannya kurang baik pada tanah yang drainasenya buruk; B. brizantha merupakan rumput penggembalaan yang tumbuh baik pada tanah kering. Namun ada kelemahannya, di Australia dilaporkan menyebabkan ternak yang memakannya peka terhadap sinar matahari.

4.      Rumput gajah
Rumput ini masuk ke Indonesia dari Afrika pada akhir masa penjajahan Belanda  sekitar tahun 1926. Di Indonesia mula-mula disebarkan di daerah peternakan sapi perah; seperti di Jawa Barat; Jawa Tengah dan Jawa Timur; namun sekarang sudah tersebar juga di wilayah peternakan sapi potong. Padang penggembalaan dan rumput potong. Tumbuh tegak membentuk rumpun. Tinggi tanamannya bisa mencapai 1,8 sampai 4,5 m tergantung pada kultivarnya dengan diameter batang 3 cm;     Di Afrika dilaporkan bisa mencapai tinggi 7 m. Sebaliknya di Amerika dikenal juga rumput gajah kerdil (kultivar Mott) tetapi nilai gizinya cukup tinggi. Perakarannya kuat dan cukup dalam; rhizoma atau rimpang pendek; pada umur 4-5 tahun kumpulan batang di bagian bawah membentuk bonggol sehingga
perlu diremajakan;
5.      Rumput benggala
Berasal dari Afrika tropika dan sub-tropika; penyebaran     sekarang tumbuh di semua daerah tropika; Masuk ke Indonesia tahun 1865 sebagai tanamanmakanan ternak dan dibudidayakan karena nilai gizi yang tinggi sebagai makanan ternak.Fumnsi  Rumput potongan , tumbuh tegak membentuk rumpun; Tingginya bisa mencapai 2 m, tergantung varietasnya. Akar serabut dengan rizoma pendek.  Rumput ini berakar dalam sehingga dapat bertahan agak lama pada musim kemarau; walaupun tidak betul-betul tahan kering. Daun halus; panjang 30 – 50 cm; lebar 1 – 2 cm,
6.      Rumput setaria   (Setaria sphacelata)
Rumput ini berasal dari Afrika tropika dan subtropika;  penyebaran    sekarang menyebar ke Asia dan Australia. Merupakan jenis rumput potongan.  Tumbuh tegak membentuk rumpun; Rizoma pendek serta stolon dengan buku-buku yang rapat. Pangkal batang biasanya berwarna kemerahan. Banyak menghasilkan anakan. Daun lebar agak berbulu pada permukaan atas, tekstur daun halus dan sangat lunak. Bunga berbentuk tandan warna coklat keemasan. Tumbuh membentuk rumpun;  Tinggi tanaman dapat mencapai 1 m. Dapat tumbuh pada curah hujan tidak kurang dari 750 sampai 1000 mm/tahun. Toleran terhadap jenis tanah dengan kisaran yang cukup luas dari berpasir sampai lihat. Baik tumbuh di dataran tinggi (0  – 2.000 m atau  lebih). Agak tahan terhadap kekeringan apabila lapisan.  
7.      Sentro (Centrosema pubescens)
Memiliki nama lain yaitu  Sentro (Indonesia), Butterfly pea (Inggris). Ada beberapa spesies kacang sentro yang dikenal saat  kultivar lain    ini di Indonesia diantaranya  Centrosema pubescens dan C. Macrocarpom.    Di Jawa  Centrosema plumieri dikenal sebagai kacang ketopong. Merupakan hijauan pakan ternak dengan kualitas tinggi, mengandung protein yang tinggi. Rumput ini berasal  dan  : Amerika Tengah dan Selatan. Sekarang sudah menyebar ke wilayah tropis di seluruh dunia. Rumput ini memiliki peran sebagai pupuk hijau dan penutup tanah selain campuran rumput di padang penggembalaan. Tumbuhan menjalar; memanjat dan melilit, batang agak berbulu; tidak berkayu.  Dapat beradaptasi pada  tanah yang tidak terlalu subur dan tanah masam. Juga bisa tumbuh pada tanah tergenang atau drainasenya jelek. Biasanya ditanam dengan biji, semakin rapat penanaman semakin cepat menutup tanah;
8.      Stilo  (Stylosanthes guianensis)
Spesies dan kultivar yang dikenal di Indonesia antara kultivar lain  lain Stylosanthes guianensis (cv Cook; cv Schofield; cv Graham; cv Endeavour).  S. hamata cv Verano;  S. humilis dan S. Scabr.  Berasal dari Brazilia; Argentina dan Meksiko, sekarang sudah tersebar di daerah tropis; terutama di padang-padang rumput. Selain sebagai tanaman untuk padang penggembalaan dan hijauan potongan dapat digunakan juga sebagai penutup tanah di perkebunan dan sebagai pupuk hijau. Berupa perdu pendek yang tumbuhnya agak tegak sampai tegak;    Tingginya bisa mencapai 1,5 m, Akar tunggang sangat kuat,   Batang berwarna coklat; berambut, agak keras dan semakin lama semakin keras dan berkayu,  Percabangannya banyak,  Daun berbentuk elips (bulat telur) sampai lancip, panjang 4 – 5 cm, lebar 2 cm; Bunga kecil-kecil berwarna kuning atau jingga. Bisa menghasilkan polong berbiji tunggal;   Bijinya berwarna kuning kecoklat-coklatan.
Dapat beradaptasi pada berbagai kondisi iklim dan tanah; termasuk tanah kurang subur dan tanah masam. Sangat cocok untuk wilayah iklim lembab dan hangat dengan curah hujan 1500 mm/tahun; Namun ada juga jenis yang mampu tumbuh pada curah hujan di bawah 1500 mm/tahun
9.      Kalopo  (Calopogonium mucunoid)
Memiliki nama lain yaitu Kacang asu (Jawa) . tanaman ini berasal dari wilayah Amerika yang beriklim tropis, Sekarang sudah menyebar ke wilayah tropis di seluruh dunia. Masuk ke Indonesia sebagai tanaman penutup tanah dan pupuk hijau di perkebunan pada tahun 1922. Merupakan hijauan pakan ternak yang berfungsi juga sebagai tanaman penutup tanah di perkebunan. Morfologi  : Batang lunak, hijau, agak berbulu; panjangnya bisa sampai beberapa meter  dan tumbuh menjalar atau memanjat; Berdaun tiga helai pada tangkainya; berbentuk oval, agak meruncing di ujungnya; panjangnya sampai 10 cm,  lebar 2 – 5 cm, berbulu di kedua permukaannya. Bunga berbentuk bunga kupu-kupu, berwarna kebiru-biruan; Polongnya panjang atau melengkung, sekitar 4 cm; berwarna hijau, setelah tua menjadi kecoklat-coklatan; tiap polong berisi 3 – 8 biji. Habitat  : Cocok untuk daerah tropis basah, dengan curah hujan 1.250 mm atau lebih dengan ketinggian sampai 2000 m dpl. Yang paling cocok pada ketinggian 300 – 1500 m dpl. Dapat beradaptasi pada tanah masam (pH 4,5 – 5). Agak tidak tahan naungan.
  
10.  Kaliandra  (Calliandra calothyrsus)
Berasal dari Amerika Tengah iklim basah, kemungkinan besar dari penyebaran  Suriname; sekarang tersebar di daerah tropika lembab;    termasuk Asia Tenggara diintroduksikan ke Jawa tahun  1936. Selain daun dan batang mudanya sebagai hijauan pakan, batangnya digunakan sebagai kayu bakar dan dapat digunakan untuk pulp (bahan pembuat kertas). Tanaman ini bagus untuk pengendali erosi di lahan-lahan miring dan pupuk hijau. Karena bisa menambat N dari udara, baik juga untuk memperbaiki kesuburan tanah; Bunganya komposit terdiri dari beberapa bunga. Warna bunga merah jambu sampai merah tua. Morfologi : Merupakan pohon kecil yang bercabang banyak; Tingginya bisa mencapai 10 m namun rata-rata 4 – 6 m; Diameter batang sampai 30 cm. Warna batang coklat tua;   Daunnya sangat lebat. Sebagai pakan ternak telah ditanam sejak tahun 1925 dengan pemberian 2 kg/hari/ekor.
Tumbuh sangat cepat; dalam waktu 5 bulan bisa mencapai 2 m. Tumbuh baik pada ketinggian 400-800 m dpl; Bisa tumbuh pada wilayah dengan curah hujan 700-3000 mm/tahun dengan tidak  lebih dari 7 bulan kering per tahun;    Di Pulau Jawa pertumbuhan yang baik dicapai pada curah hujan. 2000-4000 mm/tahun. Tumbuh pada berbagai tipe dan kesuburan tanah; Bisa beradaptasi pada tanah masam yang tidak begitu
subur;
11.  Glirisidia  (Gliricidia maculata)
Memiliki nama lain  Cebreng (Sunda),gamal, kayu air (Indonesia). Berasal dari Pantai Pasifik Amerika Tengah, Meksiko dan masuk penyebaran  Indonesia tahun 1960-an; Dibudidayakan di tempat-tempat dengan ketinggian 1200 – 1500 m dpl; dari mulai Meksiko sampai bagian Utara Amerika Selatan. Hingga sekarang tanaman telah menyebar sampai ke Indonesia; Malaysia; Thailand dan India.Fungsi  : Sebagai tanaman naungan/pelindung, pagar hidup; Penunjang tanaman lain (vanili dan merica); Tanaman batas pemilikan tanah (pagar) yang tidak mengganggu tanaman pertanian.
Batangnya berwarna coklat muda atau coklat keputih-putihan. Seringkali cabang keluar di bagian bawah batang; Panjang tangkai daun 15 – 40 cm mengandung 7 – 17 helai daun yang berukuran 1 x 3 cm sampai 3 x 6 cm; Bunganya berwarna merah muda pucat. Berbunga hanya pada musim kemarau pada saat daunnya rontok;  Berbentuk pohon dengan ukuran sedang. Tumbuh tegak; akar dapat menembus tanah cukup dalam;Lamtoro  Ciri khas tanaman ini adalah warna hijau daun yang terang pada bagian permukaan dan agak pucat pada bagian belakang;   Bunganya keungu-unguan; Pertumbuhan vegetatif gamal cukup baik karena pertumbuhan tunas setelah pemangkasan setiap pohon rata-rata 20 tunas.
Tahan terhadap musim kemarau panjang (4 – 6 bulan); Dapat tumbuh pada beberapa jenis tanah, termasuk tanah yang kurang subur;   Ketinggian tempat mencapai 0  – 1300 m dari permukaan laut . Curah hujan 650 – 3500 mm; Dapat tumbuh pada tanah yang masam
12.  Rumput Lamtor ( Leucaena leucocephala )
Memeiliki nama lain  L. glauca (Sinonim); petai cina, kemlandingan, pelending (Indonesia); peuteuy selong (Sunda); kemlandingan, lantara, metir, selamtara (Jawa); klandingan (Madura). Berasal dari Lamtoro  “biasa”  diperkirakan berasal dari Tanjung  penyebaran   Yucatan; Tipe lain yang tingginya mencapai 16 m berasal dari Salvador, Gua temala dan Hondura. Pada tahun 1500-an dibawa ke Amerika Selatan, kemudian tahun 1600-an dibawa ke Filipina sehingga abad ke-19 sudah menyebar ke seluruh dunia; Tipe Salvador yang dikenal dengan nama lamtoro gung masuk ke Indonesia pada tahun 1977. Fungsi  : Biji yang belum masak apabila dimakan memiliki khasiat sebagai obat cacing; Baik digunakan sebagai tanaman penghijauan atau untuk reklamasi tanah kritis; Kayu cukup keras sehingga baik digunakan untuk tangkai alat-alat pertanian seperti cangkul;     Batangnya untuk kayu bakar yang berkualitas baik.
Lamtoro lokal tingginya 2 – 10 m;  Jenis lamtoro gung (tipe Salvador) tingginya bisa mencapai 15  – 20 m. Tumbuh tegak, ada yang tidak bercabang banyak, ada juga yang cabangnya sangat anyak; Daunnya lebat; biasanya hijau sepanjang tahun; Bunganya berwarna putih; Kalau sering dipangkas atau digembalai bisa menjadi perdu; Bisa hidup bertahun-tahun dengan pemotongan secara teratur.
Tumbuh di daerah dataran rendah sampai 1000 m dpl. Curah hujan yang ideal 650 – 1500 mm per tahun tapi ada juga yang tumbuh di tempat yang lebih kering atau  lebih basah; pH tanah yang cocok adalah > 5; Kurang toleran terhadap Al,  Masih bisa tumbuh pada salinitas tinggi, tapi tidak menyukai tanah yang tergenang. Kurang cocok untuk daerah dingin;
13.  Rumput atra  (Paspalum atratum)
Memiliki nama lain Atra paspalum, atratum . Rumput ini berasal dariBrazil, Bolivia. Sebagai rumput potong dibuat silase;   Rumput padang penggembalaan.Morfologi : Tanaman tahunan; Termasuk jenis rumput yang tinggi dan daunnya lebih banyak daripada Paspalum plicatulum;   Berdaun lebat dan  succulent. Disukai ternak, kualitasnya cukup baik.
Cocok untuk daerah dataran rendah yang lembab; dapat beradaptasi terhadap kondisi lahan tergenang air; Tumbuh pada berbagai pH tanah (termasuk tanah masam); Pertumbuhannya cepat; daya tumbuh baik; Tidak tahan kering (cepat mati pada musim kemarau).
14.  Kacang arachis  (Arachis pintoi )
Memiliki nama lain Kacang arachis; kacang pinto (Bali). Berasal dari Brazil. Tersebar di padang penggembalaan campuran penutup tanah; dan pastura di bawah tanaman perkebunan.
Tanaman tahunan; mirip kacang tanah; Perakaran dalam kuat, akarnya berkembang dengan banyak cabang, lunak dan membentuk lapisan tebal sampai kira-kira 20 cm, tinggi batang 50 cm
Dapat tumbuh pada tanah liat berpasir dengan pH rendah; ke-3 suburan rendah dan mengandung aluminium tinggi:  Toleransi sedang terhadap aluminium; Toleransi tinggi terhadap Mn-  Kurang toleransi terhadap tanah bergaram. \

Dapat ditanam dengan biji atau dengan stek batang; Dapat ditanam bersama dengan rumput bede, rumput bahia dan kikuyu. Biji yang masih segar mempunyai tingkat dormansi yang tinggi dan dapat dikurangidengan mengeringkan antara 35– 45C selama 10 hari; Biji ditanam dengan kedalaman 2 – 6 cm.
15.  Lamtoro mini (Desmanthus virgatus )
Berasal dari  Amerika. Sebagai rumput potong dibuat silase. Rumput padang penggembalaan. Tanaman semak dengan tinggi 0,5  – 3 m, tumbuh egak, berakar dalam; Daun bersirip ganda warna bunga putih sampai krem; Buah berwarna merah kecoklatan mengkilat terdiri dari 20 – 30 biji. Dapat beradaptasi di daerah tropis maupun subtropis; Curah hujan 250 – 2.000 mm;  Tinggi tempat 0 – 2.000 m dari permukaan laut; Dapat tumbuh baik pada tanah netral sampai alkalis. Perbanyakan dengan biji 2 – 6 kg/ha;  Bijinya keras; sehingga harus diskarifikasi secara mekanik; digosok dengan kertas amplas atau direndam dengan air panas sebelum disemaikan; Harus dipotong/digembala secepatnya rata-rata 7,6 ton bahan kering, tetapi dilaporkan dapat mencapai 23 ton/ha (Hawai) dan 70 ton/ha (Australia).
  

BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Kesimpulan dari makalah ini adalah ada beberapa rumput yang biasa terdapat di lahan sub optimal yang dapat dijadikan sebagai pakan ternak yaitu
1.      Rumput gamba
2.      Rumput bede
3.      Rumput bebe
4.      Rumput gajah
5.      Rumput benggala
6.      Rumput setaria
7.      Sentro
8.      Stilo
9.       Kalopo
10.  Kaliandra
11.  Glirisidia
12.  Lamtoro
13.  Rumput atra
14.  Kacang arachis
15.  Lamtoro mini

sDAFTAR PUSTAKA

Prawiradiputra, B.R., E. Sutedi, S. A. Fanindi, 2012 . Hijauan Pakan Ternak Untuk Lahan sub-Optimal. BADAN PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN PERTANIAN 
KEMENTERIAN PERTANIAN