Kamis, 25 Mei 2017

Ilmu Reproduksi Ternak
”Efisiensi Reproduksi Sapi Peranakan Ongole (PO)”





Oleh    : Kelompok II (Dua)

Ketua Kelompok           : Azlan (L1A1 15 014)
Anggota Kelompok      : 1. Brahman (L1A1 15 016)
2. Enco Sartono (L1A1 15 018)
3. Berliana Afikasari (L1A1 15 015)
4. Fitri Febrina Sari (L1A1 15 021  )

JURUSAN PETERNAKAN
FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2017


BAB I
PENDAHULUAN
1.1    Latar Belakang
 Sapi potong merupakan salah satu sumber pangan yang dapat memenuhi kebutuhan manusia Laju permintaan daging sapi potong yang melebihi kemampuan produksinya akan menguras populasi dan produktivitas sapi potong, serta sumber bibit untuk dijadikan sebagai penghasil daging.
Peningkatan produksi sapi potong perlu ditunjang dengan pemilihan bakalan sapi yang baik. Bakalan yang biasa digunakan untuk penggemukan salah satunya sapi Peranakan Ongole (PO) jantan karena sapi tersebut memiliki beberapa potensi antara lain adaptasinya cukup baik terhadap pakan dan lingkungan, pertambahan bobot badan  yang dapat dicapai cukup tinggi, dan ketersediaan bakalan cukup melimpah. Selain bakalan, pakan merupakan faktor yang sangat penting dalam usaha peningkatan produktivitas sapi potong. Efisiensi reproduksi sapi peranakan ongole (PO) dipengaruhi oleh masa pubertas yang mana semakin awala suatu ternak mengalami pubertas maka akan meningkatkan produktivitas ternak tersebut. Efisiensi reproduksi sapi PO melibatkan kondisi yang dialami oleh sapi PO baik hal itu mempengaruhi produktivitas yang mningkat atau menurun. Berdasarkan latar belakang tersebut maka efisiensi reproduksi sapi peranakan ongole (PO) perlu diketahui.

1.2    Tujuan
Tujuan penulisan makalah efisiensi reproduksi sapi peranakan ongole yaitu untuk mengetahui efisiensi reproduksi pada sapi ongole.
1.3    Manfaat
Manfaat penulisan makalah ini yaitu dapat mengetahui efisiensi reproduksi sapi peranakan ongole.



BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Efisiensi Reproduksi Sapi Peranakan Ongole
Efisiensi reproduksi berhubungan dengan performans reproduksi yang penting antara lain adalah: Service per Conception(S/C), Days Open (DO), jarak beranak atau Calving Interval (CI), angka kebuntingan atau Conception Rate(CR)(Nuryadi, 2011). S/C adalah angka yang menunjukan jumlah semen atau straw yang digunakan untuk menghasilkan suatu kebuntingan (Feradis, 2010).
a.    S/C Sapi Peranakan Ongole
Fauziah (2015) menyatakan bahwa Hasil analisis performans reproduksi sapi Peranakan Ongoleb sebesar 1,2 kali, nilai ini  menunjukkan nilai dibawah normal S/C. Menurut Toelihere, nilai S/C yang normal berkisar antara 1,6 sampai 2,0 semakin rendah nilai tersebut, maka semakin tinggi kesuburan hewan-hewan betina dalam kelompok tersebut, sebaliknya makin tinggi nilai S/C, makin rendah nilai kesuburan kelompok betina tersebut.
Service per Conception sapi PO (Peranakan Ongole) memiliki angka S/C yang lebih rendah. Astuti (2004) menyatakan semakin rendah nilai S/C maka semakin tinggi nilai fertilitasnya, sebaliknya semakin tinggi nilai S/C akan semakin rendah tingkat fertilitasnya. menurut Affandi (2003) menyebutkan nilai S/C yang normal adalah 1,6 sampai 2,0. Apabila S/C rendah, maka nilai kesuburan sapi betina semakin tinggi dan apabila nilai S/C tinggi, makasemakin rendah tingkat kesuburan sapisap  betina tersebut
b.   Days open (DO)
DO merupakan periode atau selang waktu sapi setelah beranak sampai dikawinkan kembali sampai terjadi kebuntingan (Wardhani,Ihsan and Isnaini 2015).
Hasil analisis statistic dalam penelitianyang dilakukan oleh fauziah (2015) Rataan DO sapi Peranakan Ongole sebesar 115, nilai tersebut menunjukan bahwa nilai DO yang panjang, panjangnya DO disebabkan lamanya peternak menyapih pedet. Yulyanto, Susilawati dan Ihsan (2011) menyatakan bahwa DO dari  sapi tersebut masih belum sesuai dengan nilai lama kosong pada sapi yang ideal (60-90 hari). Days Open yang terlalu panjang dapat disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain tingginya angka kegagalan IB sehingga S/C menjadi tinggi. Pirlo (2000) menyatakan bahwa faktor-faktor yang menyebabkan panjangnya nilai DO adalah estrus yang terlambat, kesalahan dalam deteksi estrus, kurangnya bobot badan dan faktor lingkungan.
c.    Calving Interval (CI)
Calving Interval adalah jarak waktu antara satu kelahiran dengan kelahiran berikutnya, CI dipengaruhi oleh lama kebuntingan dan lama waktu kosong ternak.Jarak beranak merupakan salah satu kinerja reproduksi yang perlu diketahui karena keteraturan CI yang setahun sekali menjamin kesinambungan produksi ternak (Luthfi, Anggraeny dan Purwanto, 2011).
Menurut pendapat Hadi dan Nyak Ilham (2004) bahwa jarak waktu beranak (CI) yang ideal adalah 12 bulan, yaitu 9 bulan bunting dan 3 bulan menyusui, hal ini ditambahkan oleh Ball and Peters (2004) bahwa efisiensi reproduksi dikatakan baik apabila seekor induk sapi dapat menghasilkan satu pedet dalam satu tahun.
Calving Interval ditentukan oleh lama kebuntingan dan lama waktu kosong. Data CI ditampilkan. Sapi Peranakan Ongole dan berdasarkan uji-t tidak berpasangan memperlihatkan perbedaan yang nyata (p<0,05). Nilai CI pada penelitian ini belum ideal,  menurut pendapat Hadi dan Nyak Ilham (2004) bahwa jarak waktu beranak (CI) yang ideal adalah 12 bulan, yaitu 9 bulan bunting dan 3 bulan menyusui, hal ini ditambahkan oleh Ball and Peters (2004) bahwa efisiensi reproduksi dikatakan baik apabila seekor induk sapi dapat menghasilkan satu pedet dalam satu tahun.
d.      Conception Rate (CR)
Angka konsepsi (CR) adalah jumlah akseptor yang mengalami kebuntingan pada IB ke 1 dibagi jumlah semua akseptor dikali 100% (Susilawati, 2011). Feradis (2010) conception rate atau angka konsepsi. Angka konsepsi ditentukan berdasarkan hasil diagnosa kebuntingan melalui pemeriksaan rektal  (eksplorasi rektal) oleh dokter hewan dalam waktu 40 sampai 60 hari sesudah inseminasi.`
Conception Rate sapi Peranakan Ongole Conception Rate sapi PO lebih  baik bila dibandingkan sapi Peranakan Limousin. Phlilips (2001) menyatakan bahwa CR pada sapi yang dikawinka dengan Inseminasi Buatan dapat mencapai 65%. Kemampuan sapi betina untuk bunting pada inseminasi pertama sangat dipengaruhi oleh variasi lingkungan. Nutrisi pakan yang diterima oleh sapi sebelum dan sesudah beranak juga berpengaruh terhadap CR, sebab kekurangan nutrisi sebelum melahirkan dapat menyebabkan tertundanya siklus estrus (Bormann, Totir dan Kach-man 2006). Nilai CR sapi PO di Kecamatan Pagak lebih rendah jika dibandingkan hasil penelitian Dwiyanto (2005) di Yogyakarta yaitu CR sapi PO 80%.




BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Berdasarkan tujuan dan pembahasan maka dapat disimpulkan bahwa efisiensi reproduksi pada sapi ongole dapat diketahui melalui service per conception, calving interval, day open dan conception rate.
3.2 Saran
Saran yang dapat kami sampikan melaluimakalah ini yaitu sebaiknya mahasiswa dapat mengetahui hal-halyang mempengaruhi efisiensi reproduksi sehingga dapat diberitahukankepada masyarakat.



DAFTAR PUSTAKA
Astuti, M. 2004. Potensi dan Keragaman Sumber Daya Genetik Sapi Peranakan Ongole (PO).Lokakarya Nasional Sapi Potong.Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.
Ball, P.J.H and A.R. Peters. 2004. Reproduction in Cattle. Third Edition.Blackwell Publishing. Victoria. Australia.
Fauziah Windah Laili, Busono Woro dan Ciptadi Gatot. 2015. Performans Reproduksi Sapi Peranakan Ongole Dan Peranakan Limousin Pada Paritas Berbeda Di Kecamatan Paciran Kabupaten Lamongan
Feradis. 2010. Bioteknologi Reproduksi Pada Ternak. Alfabeta. Bandung.
Luthfi, M., Y.N. Anggraeny dan Purwanto. 2011. Perbedaan Performan Reproduksi Sapi PO dan Brahman Cross di Berbagai Lokasi di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner Loka Penelitian Sapi Potong. Grati Pasuruan.
Nuryadi dan S. Wahjuningsih.2011. Penampilan Reproduksi Sapi Peranakan Ongole dan Peranakan Limousin di Kabupaten Malang. Jurnal Ternak Tropika. 12 (1): 76-81.
Pirlo, G., F. Miflior dan M. Speroni. 2000. Effect of Age at First Calving on Production Traits and on Difference between Milk Yield and Returns and Rearing Cost in Italian Holsteins. Journal of Dairy Science. 83 (3): 603-608.
Susilawati, T. 2011. Tingkat Keberhasilan Inseminasi Buatan dengan Kualitas dan Deposisi Semen yang Berbeda Pada Sapi Peranakan Ongole. Jurnal Ternak Tropika. 12 (2): 15-24.
Wardhani, E.K., M.N. Ihsan dan N. Isnaini. 2015. Evaluasi Reproduksi Sapi Perah PFH pada Berbagai Paritas di Kud Tani Makmur Kecamatan Senduro Kabupaten Lumajang. Jurnal Ilmu-ilmu Peternakan.



Rabu, 07 Desember 2016

ANALISIS BAHAN KERING DAN KADAR ABU



LAPORAN PRAKTIKUM II
ANALISIS BAHAN KERING DAN KADAR ABU


                        NAMA                    : AZLAN
                        NIM                        : L1A1 15 014
                        KELAS                   : A
                        KELOMPOK         : 1
                        ASISTEN                :  AFISITIN JOAN TATRA S.Pt, M.Si

FAKUTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS HALU OLEO
KENDARI
2016



BAB I
PENDAHULUAN
1.1    Latar Belakang
            Gamal adalah tanaman leguminosa yang dapat tumbuh dengan cepat di daerah kering. Pemberian gamal pada sapi maksimal 40% dan domba 75%. Sebaiknya gamal diberikan bersama-sama dengan pemberian rumput (Wahiduddin, 2008).
            Pemanfaatan daun gamal sebagai pakan ternak sangat menguntungkan, cara penanaman yang mudah, kandungan protein yang tinggi, masih tetap berproduksi baik meskipun musim kemarau, memperbaiki kesuburan tanah baik dari guguran daun maupun pengakarannya, dan banyak lagi manfaat dari penanaman pohon gamal ini. (Rukmana, 2005).
            Ampas sagu merupakan hasil ikutan pada pengolahan sagu. Sekitar 14% limbah ini dihasilkan dari berat basah batang sagu yang diolah. Ampas sagu saat ini terbuang begitu saja, dan jika tidak ditangani dengan baik dapat menimbulkan pencemaran lingkungan berupa bau dan peningkatan keasaman tanah. Kandungan nutrisi ampas sagu rendah, terutama protein dan tinggi kandungan serat kasar ( Islamiyati,2009)
            Kandungann kadar air, bahan kering, kadar abu dan bahan organik pada pakan seperti gamal dan ampas sagu dapat diketahui dengan metode analisis proksimat  karena analisis proksimat adalah suatu kegiatan menganalisis bahan  pakan yang meliputi proses pengovenan, penanuran, pengekstrsksian yang bertujuan untuk mengetahui kandungan nutrisi dan kualitas bahan pakan trsebut
1.2 Tujuan
            Mengetahui  kandungan kadar air dan kadar abu dari gamal dan ampas sagu

BAB II
METODE PRAKTIKUM
2.1  Waktu dan Tempat
Praktikum analisis Bahan Kering dan Kadar Abu dilaksanakan pada hari kamis 14 Oktober 2016 di Labortorium Nutrisi Fakultas Peternakan Universitas Halu Oleo
2.2  lat dan Bahan
Alat dan bahan ang digunakan pada praktikum ini yaitu sebagai berikut:
1.      Alat
1.      Cawan aluminium
2.      Cawan porselin
3.      Gegep
4.      Eksikator
5.      Timbangan analitik/digital
6.      Oven 105 oC
7.      Tanur 600 0C
2.      Bahan
1.      Daun gamal yang sudah digiling dan kering
2.      Ampas sagu yang sudah digiling dan kering
2.3  Prosedur Kerja
Prosedur kerja analisis bahan kering dan kadar abu yaitu sebagai berikut:
2.3.1.      Analisis bahan kering
1.      Cawan aluminium dimasukkan kedalam eksikator selama kurang lebih 10 menit
2.      Kemudian cawan aluminium di timbang sebagai cawan kosong dengan menggunakan timbangan analitik
3.      Sampel di masukkan sebanyak 3-5 g kedalam cawan aluminium
4.      Memasukkan cawan aluminium yang telah diisi sampel kedalam oven 105 0C selama 8-24 jam
5.      Mengeluarkan cawan aluminium yng berisi sampel dari oven dan dimasukkan kedalam eksikator selama kurang lebih 10menit
6.      Menimbang cawan aluminium yang berisi sampel
Rumus:
Kadar air =
Bahan Kering  = 100-Kadar Air
2.3.2.      Analisis kadar abu
1.    Cawan porselin dimasukkan kedalam eksikator selama kurang lebih 10 menit
2.    Cawan porselin dimasukkan sebagai cawan kosong dengan menggunakan timbangan analitik
3.    Sampel dimasukkan sebanyak 3-5 g kedalam cawan porselin
4.    Cawan porselin yang telah diisi sampel dimasukkan kedalam tanur      6000C selama 8-24 jam
5.    Cawan porselin yang berisi sampel dari tanur dan dimasukkan kedalam eksikator selama kurang lebih 10menit
6.    Cawan porselin yang berisi sampel ditimbang
Rumus:
Kadar Abu= x100
Bahan Organik = Bahan Kering- Kadar Abu


BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Hasil
1.  Tabel analisis Kadar Air
NO
KODE CAWAN
BOBOT KOSONG ( gram )
BOBOT SAMPEL
( gram )
SAMPEL
BOBOT SAMPEL SETELAH DIMASUKKAN DALAM OVEN 105 ( gram )
BOBOT SAMPEL AKHIR
( gram )
1
R3 da
9,0408
3,3176
GAMAL
11,8496
2,8088
2
R5 3a
8,9677
4,9757
AMPAS SAGU
13,733
4,7653

2. Tabel analisis Kadar abu
NO
KODE CAWAN
( gram )
BOBOT KOSONG
( gram )
BOBOT SAMPEL
(gram )
SAMPEL
BOBOT SAMPEL SETELAH DIMASUKKAN DALAM TANUR 600 (gram )
BOBOT SAMPEL AKHIR
( gram )
1
8
18,8627
2,4311
GAMAL
19,0298
1,9163
2
16
30,0892
3,6942
AMPAS SAGU
32,0055
0,1671


3.2. Pembahasan
Tabel analisis Kadar air, Bahan Kering, Kadar abu, dan Bahan Organik
NAMA BAHAN
KADAR AIR ( % )
BAHAN KERING (%)
KADAR ABU(%)
BAHAN ORGANIK(%)
GAMAL
15,33
84,66
6,87
77,79
AMPAS SAGU
4,22
95,77
51,87
43,89

            Berdasarkan analisis tersebut sebagaimana dalam  tabel dapat dilihat bahwa kadar air pada gamal lebih besar yakni 15,33 % dibandingkan ampas sagu 4,22 % . Hal ini sesuai dengan  pernyataan Lakitan (1993), bahwa tinnginya kadar air tanaman muda karena pada bagian tanaman muda terdapat lebih banyak sel yang aktif dibandingkan dengan tanaman yang tua yang memiliki sel yang rusak dan mati. Air sendiri di dala sel daun diperlukan sebagai seaksi biokimia misalnya proses fotosintesis. Oleh karena itu, bahan kering tanaman gamal lebih rendah yakni 84,66 % sedangkan pada ampas sagu 95,77%.
            Kadar air tanaman gamal yang diperoleh lebih rendah 15,33 % dibandingkan dengan kadar air tanaman gamal yang diperoleh Sriyana( 2005) yakni 81,06 % dan kadar abu pada gamal juga lebih rendah  6,87 % daripada kadar abu yang dihasilkan oleh Sriyana (2005) yakni 9,09%.
            Kadar air pada ampas sagu dalam praktikum 4,22% lebih rendah dibandingkan dengan kadar air pada hasil penelitian Sangadji (2008) 33,76 %, sedangkan kadar abu yang diperoleh dalam praktikum 51,87 %  lebih tinggi daripada kadar abu ampas sagu yang diperoleh Sangadji (2008) 9,66%.
            Berdasarkan hasil analisis kadar air dan kadar abu tersebut dapat ketahui bahan kering dan bahan oraganik pada gamal dan ampas sagu. Bahan kering gamal dari hasil praktikum lebih tinggi dibandingkan dengan kadar air yang peroleh Sriyana (2005) karena kadar dan bahan bersifat berbanding terbalik. Sedangkan pada ampas sagu bahan kering yang diperoleh pada praktikum lebih tinggi dari pada bahan kering yang dihasilkan oleh Sangadji (2008 ) karena kadar air ampas sagu pada praktikum lebih rendah.
            Bahan organik dari gamal dan ampas sagu dipengaruhi oleh bahan kering dan kadar abu yang diperoleh. Berdasarkan hasil analisis yang diperoleh diperoleh dari praktikum bahan organik pada gamal 77,79 sedangkan pada bahan organik hasil penelitian Sriyana (2005) 9,85 %. Sedangkan bahan organik pada ampas sagu hasil praktikum 43,89 % sedangkan bahan organik yang diperoleh 56,58%.
 

BAB IV
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
            Kesimpulan dari praktikum ini adalah kadar air gamal lebih rendah dari kadar air yang diperoleh Sriyana (2005) sedangkan kadar air pada ampas sagu lebih rendah dari hasil yang diperoleh Sangadji (2008). Kadar abu gamal lebih rendah dibandingkan dengan kadar abu yang diperoleh Sriyana (2005) dan lebih rendah kadar abu yang diperoleh Sangadji (2008). Bahan organik dan bahan kering pada gamal dan ampas sagu dipengaruhi  kadar abu dan kadar air.
3.2 Saran
            Saran saya dalam praktikum ini adalah hendaknya perlu adanya pejelasan singkat dari asisten tentang manfaat mengetahui hasil analisis proksimat pada suatu bahan pakan.


DAFTAR PUSTAKA
Islamiyati, Rohmiyatul. 2009. Kandungan Nutrisi Campuran Ampas Sagu (Metroxilon sago) dan Feses Broiler yang Diferensiasi dengan berbagai level EM4. Seminar Nasional Teknologi Peternakan dan Veteriner.
Lakitan,B. 1993. Dasar-Dasar Fisiologi Tumnbuhan. PT Rajagrafindo Persad. Jakarta

Rukmana, R. 2005. Budi Daya Rumput Unggul : Hijauan Makanan Ternak. Yogyakarta. Kanisius.

Salisbury, F.B. dan C. W. Ross.1995. Fisiologi Tumbuhan, Jilid 2. Institusi Teknologi Bandung. Bandung
Wahiduddin, M. 2008. Ilmu Pakan Ternak. (http://wah1d.wordpress.com/category/ilmu-pakan)

Sangadji,Insun, dkk. 2008. Perubahan Nilai Nutrisi Ampas Sagu Selam Pada Fase Pertumbuhan Jamur Tiram Putih (Pleurotus Ostreatus) Yang Berbeda (Change Of Nutritive Values Of Sago Meal At Different Growth Stage Of Pleurotus Ostreatus) Jurnal Ilmu Ternak, Juni 2008, Vol. 8, No. 1,

Sriyana S . 2005. Analisis Kandungan Lemak Kasar Pada Pakan Ternak Dengan Menggunakan Bahan Pengextrak Bensin Biasa Yang Disuling .Prosiding Temu Teknis Nasional Tenaga Fungsional Pertanian